RINDU

Sengaja memalingkan wajah ini tuk hanya sekadar melepaskan penat..

Menunggu kedatangannya berdiri, mematung di depan halaman..

Menebarkan senyum indahnya yang ditampakkan pada wajah polos itu..

Rindu..

Haruskah aku merasakannya?

Lalu bagaimana dengan dirimu?

Tak takutkah dengan rindu?

Rindu yang begitu Indah dirasakan, namun akan menjadi pedih bila disia-siakan..

Sungguh, jagalah rasa itu!

Jangan biarkan ku mengadu pada Tuhan..

Bahwa kaulah yang menyia-nyiakan..

Ku titipkan rinduku..

Pada angin yang berhembus meninggalkan sepi..

Semoga sampai padamu..

Yang selalu menjaga hati..

Iklan

Jangan Sakiti Aku!!

Kisah Nyata.

By: secret

Sejak kecil aku merasakan kekerasan dari orangtuaku, terutama ayahku. Ya, ayah. Aku tak tahu apa alasan ayahku melakukan hal yang tak sepantasnya dilakukan kepada seorang anak seperti aku, anak yang tak tahu apa-apa bahkan tak mengerti apa-apa. Anak si bocah ingusan yang hanya bisa mencari-cari masalah tanpa tahu solusinya. Yang aku tahu, aku hanya bisa bermain, menangis, tertawa, makan, tidur, pup, dan kembali bermain. Haruskah aku dapatkan hal itu? Hingga pada akhirnya terdapat luka yang mungkin tak kan pernah hilang. Ya, luka batin. Luka yang akan selalu melekat dalam memori panjangku, di mana aku akan selalu mengingat kejadian-kejadian tak mengenakkan itu.

Memarahi ku di depan umum adalah hal biasa baginya, membanting segala hal yang ada di dekatnya pun sudah biasa aku mendengarnya, bahkan menyakitiku dengan tanganmu pun sudah biasa aku rasakan. Dan itu kau lakukan demi kepuasan luapan emosimu saja, tanpa kau memikirkan aku adalah “anakmu” . Aku adalah titipan Tuhan yang Tuhan kirimkan langsung untukmu, untuk kau jaga, untuk kau rawat bukan untuk kau sakiti apalagi kau sia-siakan. Haruskah aku selalu menangis setiap hari karena hasil kenakalan yang aku perbuat akan selalu dapat ku tebak bahwa kau akan memukuliku? Ibu selalu menangis dan membelaku demi kau tidak menyakitiku? Lalu? Apakah kau akan tetap memukuliku, dan bahkan ibu? Jangan pernah kau sentuh ibu, apalagi menyakitinya jika kau masih menganggapku anakmu. Aku tak sudi jika kau menyakiti ibuku. Cukuplah aku yang tersakiti dengan segala pelampiasan amarahmu, cukup aku yang terluka, cukup aku yang selalu merasakan pahit getirnya setiap pukulan dan cubitanmu, cukup aku yang merasakan malu itu, CUKUP AKU AYAH!!

Mungkin aku sering mendengar beribu-ribu maaf keluar dari mulutmu, hanya demi meminta maaf kepadaku. Ya, mungkin dulu sebegitu polosnya aku hingga begitu mudah memaafkanmu. Tapi sungguh, perasaan luka batin itu masih tersimpan sangat rapi hingga saat ini ayah. Aku tak bisa menyembuhkannya, aku tak bisa memulihkan luka itu apalagi menghilangkannya. Sudah cukup kaulah lelaki pertama yang menyakitiku, disaat aku terlahir di dunia ini. Kau laki-laki pertama yang menyakitiku. Apa kelahiranku bukanlah keinginanmu? Kau berharap seorang anak lelaki, namun nyatanya aku yang terlahirkan. Hanya seorang wanita lemah yang tak tau apa-apa, mungkin tak berguna bagimu, dan mungkin menyusahkan bagimu. Maafkan aku, jika kenyataan ini pahit untukmu. Tapi, aku sangat berharap.. Jangan kau sakiti aku!! Cukuplah bagiku merasakan penderitaan itu. Aku tak ingin merasakan dan melihat segala kejadian kekerasan itu. CUKUP AKU YANG MERASAKAN!

Aku tidaklah salah, jika aku akan menjadi seorang wanita yang tumbuh dewasa dengan segala kebencianku terhadap seorang laki-laki, seorang wanita yang tertutup, seorang wanita yang keras, dan yang lainnya. Namun, kau sungguh sangat beruntung. Dan seharusnya kau bersyukur. Bahwa aku tak menampakkan kebodohan itu semua, aku mencoba untuk menghapus luka-luka itu, meskipun sulit dan tak bisa, namun aku tetap menutupinya. Aku begitu peduli dengan seorang lelaki, bahkan dengan adikku sendiri, aku sangat penyabar, aku belajar untuk terbuka, aku belajar untuk berani tampil di depan umum dan itu aku lakukan meskipun bertolak belakang dengan kepribadianku yang asli.

Sungguh sulit rasanya aku harus percaya dengan seorang laki-laki, aku takut. Aku takut jika aku harus menemukan seorang lelaki sepertimu. Aku takut aku tersakiti. Aku tidak ingin tersakiti kembali oleh seorang lelaki. Cukup kau!!

Ku mohon, jangan kau sakiti aku kembali. Jika perlu, sembuhkan lukaku ini. Aku ingin merasakan kebahagiaan dengan seseorang yang menemaniku nanti, tanpa ada kekerasan lagi. Tenang, aku sudah memaafkan segala kesalahanmu. Kau tak usah khawatir. Meskipun, aku masih menyimpan lukaku hingga nanti.

JANGAN SAKITI AKU LAGI!!

Klise

Meniru, ditiru atau bahkan tertiru..

Bukanlah suatu hal biasa yang selalu kau lewati..

Mencari-cari hingga sampai mengutak-atik dirimu sendiri..

Berdiri mematung bermonolog di depan cermin..

Hingga kepuasan menghantui wajah sumringahmu..

Berjalan melintasi ruang-ruang dan menjadi sorotan..

Terlihat menonjol?

Bahkan kau tak merasakan itu..

Hanya bisa meniru begitu saja tanpa berfikir..

Meskipun dengan peniruan yang dapat menipu..

Sudahlah, tak usah lanjut kau lakukan itu..

Cukup jadi dirimu dan kenali jati dirimu..

Klise! You can kill my identity !

Surat Untukmu

Pagi berganti malam,

Begitupun sang matahari yang menjadi rembulan..

Masih terdiam dan sendiri dalam kesunyian..

Memandangi langit dari kejauhan, namun..

Asal kau tahu, langit itu dekat..

Sedekat jarakmu yang sebenarnya kaulah yang jauh..

Rasanya, tak pantas ku merenungi hal-hal itu..

Hanya menambah beban yang seharusnya tak ku pikul sendiri..

Melupakan yang pernah ada dan biarkan sirna..

Karena seharusnya kau paham, kita tak dapat bersama..

Tutuplah pintumu erat-erat, dan biarkan aku sendiri..

Kau takut ku tersesat?

Tak usa khawatir, Tuhan selalu menjagaku dan akan memberikan jalan terbaik-Nya..

Untukku..

Menjemput MAPAN (Masa Depan) Dibalik Nama dan Impian

Ketika seorang Ananda menapaki jalan hidupnya dengan setumpuk cita-citanya yang harus ia raih. Bagaimana ia menjalani hidupnya dengan menemukan berbagai rintangan sebesar apapun tetap ia terjang, dukungan-dukungan yang ia dapatkan adalah salah satu yang dapat mengobarkan semangat seorang Ananda.

Gagal bukanlah sebuah penghalang baginya untuk bangun dan kembali bangkit, kegagalan tidak membuatnya putus asa namun dengan kegagalan itu membuat dirinya ADA dan bermakna untuk semua. Cita-citanya bukan hanya tuk ia seorang, tetapi juga tuk semua orang.

Apakah sebenarnya cita-cita Ananda? Sudahkah ia menggapai cita-citanya? Apakah ia masih terus berjalan, melangkah, berusaha untuk mewujudkan cita-citanya? Semua kan terjawab dibalik cerita-cerita ini. Jadi, janganlah anda merasa bosan dengan semua perjalanan cerita ini apabila anda benar-benar ingin mengetahuinya. Karena dibalik cerita-cerita yang mungkin terkadang membuat anda bosan, dari situlah anda perlahan-lahan akan menemukan jawabannya.

Penasaran dengan ceritanya? Yuk, coba mampir ke wattpad anandapertiwi6. Dan berikan suara serta comment terbaikmu. 😊😇

https://my.w.tt/mVIQUn3dqU

Kebingungan yang Nyata

Terkadang perasaan itu hadir ketika hati sedang benar-benar ingin sendiri..

Menyibukkan perasaan yang telah lama tak terisi, agar tertutupi segala beban di hati..

Namun, terkadang rasa itu ingin hilang. Ketika hati ingin menerima kembali..

Datang tiba-tiba mengisi kekosongan hati, menutupi segala kekecewaan yang pernah ada..

Pada siapakah ku harus berpihak?

Di mana letak kebenaran yang sebenarnya harus ku terima?

Apa yang sebaiknya ku lakukan?

Kebingungan itu membuat hidup menjadi-jadi.. Rasa sakit yang teralami dahulu masih melekat..

Penyesalan dan rasa kesal selalu datang menhantui perasaan..

Rasanya ini semua hanya khayalan, tapi ternyata tidak!!

Kenyataan pahit yang harus dijalani dan diterima untuk memperbaiki masa depan..

Sebuah pelajaran hidup yang berharga untuk hati yang pernah terluka..

Mungkin dari situlah kata TEGAR hadir menguatkan orang-orang yang lemah..

Tak berdaya..

Seperti merasakan kebingungan yang nyata ini..

Senja Merah Kelabu

Senyum yang selalu merekah pada wajah sang Surya..
Seketika merah di pipinya menampakkan rona indah pada birunya langit..
Tak hanya sendiri..
Sang kelabu yang bersemayam di antara warna merah-merah itu, memberikan efek perpaduan yang serasi seperti disaat pena mengisi kosongnya kertas
putih..

Meskipun ranting-ranting pohon menghalangi keindahan merah kelabu dari indera penglihatanku..
Tapi, hal itu tak menghalangi indera perasaku tuk selalu mengagumimu..
Hai, senja..
Tanpa rasa malu ku sapa dirimu dibalik gedung-gedung tinggi yang menyekat dirimu terhadapku..
Ku abadikan pesona indahmu dengan menaruh langkahku disaat rasa ingin menghampirimu..
Namun, aku tak leluasa dan memiliki kekuasaan tuk melangkahkan kakiku dihadapanmu..
Karena takdir telah membawamu lebih dahulu tuk hilang dari hadapanku..
Selamat tinggal senja..
Semoga rona merah kelabu itu dapat ku genggam suatu saat nanti..
Disaat takdir menerimaku tuk menemuimu kembali..

#foryou