Hilang

Telah lama ku tak berkutik di laman ini..

Yaa.. Mungkin beberapa hari lalu, ku baru mengirim suatu kata-kata sindiran yang terbesit dipikiran saat itu..

Aku tak punya ide untuk membuat kata baru lagi..

Bukan tak punya, tapi belum punya..

Masih beku dan keras untuk memulai membuat kata-kata yang dapat menyentuh diriku ataupun seseorang..

Mungkin terlalu lelah untuk memulai kembali hal-hal itu..

Sehingga ku memilih hilang, lupus dan diam tanpa berkutik sedikit pun..

Namun tak juga seperti patung yang selalu diam tak bergerak mengikuti alur perjalanan..

Diriku masih tetap bergerak, berjalan, melangkah..

Hanya saja otakku masih belum bisa ikut bergerak dan berproses dengan baik..

Tak ada gangguan..

Hanya saja mungkin ia bosan dan penat menghadapi segala perjalanan yang panjang ini.

Cukup ia menatapi langit-langit kamar dengan ditemani squishy empuk serta bantal dan guling…

Ya.. Ia harus beristirahat sejenak untuk memulihkan pikiran-pikiran jernih yang indah kembali..

Sampai berjumpa kembali di waktu yang tepat..

Apa yang dapat merubah segala sifat dan sikapmu?

Telah berbagai banyak cara dicobanya agar dirimu menjadi pribadi yang lebih baik..

Namun kau masih saja bersikap acuh tak acuh terhadap perbuatan yang seharusnya tak kau lakukan..

Lalu harus bagaimana?

Haruskah ia menghukummu, mencacimu, atau bahkan ia harus membiarkanmu?

Sadarlah..

Beri tahu kami, apa yang seharusnya kami lakukan terhadapmu? Apa yang dapat merubah sifat dan sikapmu itu?

Beritahukanlah..

Agar kami dapat introspeksi dan berusaha untuk melakukan apa yang kamu inginkan terhadap kami..

Sadarlah..

Apa yang dirimu telah lakukan selama ini adalah salah besar, kau telah banyak merugikan..

Merugikan diri sendiri bahkan kami, dan sifatmu yang suka menghambur-hamburkan itu..

Buanglah jauh-jauh, lihatlah orang-orang di luar sana yang masih banyak membutuhkan rasa empatimu untuk membantunya..

Tidak hanya memenuhi nafsumu saja yang tak akan pernah ada habisnya..

Begitu pula dengan egomu yang masih dalam tahap rendah, kau belum dapat meredam egomu.. Sehingga kau begitu sangat antusias terhadap apa yang kau inginkan..

Buanglah jauh-jauh hal itu, karena hal iti tak dapat menguntungkan mu.. Cobalah kau belajar tuk mengerti sedikit demi sedikit sekitrmu. Janganlah kau anggap dunia ini milikmu..

Ubahlah pula sikap-sikap mu, terhadap orang tuamu bahkan orang-orang di sekitarmu..

Jangan kau terlalu menyepelekan sikapmu, karena suatu sikap pun akan menentukan kesuksesanmu nantinya..

Sadarlah..

Kami akan selalu mendukungmu, kami akan selalu mendoakanmu..

Dan kami akan selalu mencoba mengerti akan dirimu dan perasaanmu..

Rindu Perdamaian di Musim Hujan

Kala itu air deras tiba di bumi..

Membasahi tanah-tanah subur dan menghidupkan bunga yang layu..

Memenuhi air kering yang telah lama mati..

Beberapa orang berkerumun dalam satu sudut ruangan..

Meminta kesejahteraan hidup yang sepadan dengan standarnya..

Mulai tak tenang, pemberontak berdatangan, provokator beraksi memanasi masa..

Hujan semakin deras turun, namun tak mengurangi gairah mereka tuk terus merusak..

Seperti itukah cara menyelesaikan permasalahan?

Lalu, bagaimana dengan anak-anak negeri yang melihat? Apa itu baik untuk mereka? Bukankah dengan tak sadar mereka akan meniru adegan-adegan tak senonoh itu?

Tolonglah..

Pikirkan baik-baik sebelum bertindak, ingatlah..

Bahwa dirimu memiliki seorang anak sebagai penerus bangsa yang cendekia..

Bukan sebagai penerus bangsa yang dapat memberontak dan merusak citra persatuan dan kesatuan Indonesia..

Sungguh aku rindu..

Di mana perdamaian kala itu? Yang dapat menghadirkan generasi-generasi bermutu, yang dapat menciptakan sesuatu yang baru, yang penuh dengan inovatif dan kreatif..

Sungguh aku rindu..

Diriku sebagai anak bangsa yang berusaha selalu mengabdi pada tanah air ini..

Aku rindu akan perdamaian itu.. Yang dapat membuat bangsa ini tenang dan nyaman, hingga kukuhnya persatuan dan kesatuan..

Ku rindu perdamaian di musim hujan..

Bunga Layu Pertanda Rindu

Disaat matahari menampakkan sinarnya, disaat embun pagi meneteskan kebekuan dalam daun itu, suatu proses fotosintesis terlihat begitu sendu, tuk menciptakan suatu yang baru..

Tunggu.. Apa itu? Terlihat sesuatu berwarna merah di sudut taman, sungguh menyorot mata tuk menghampirinya, begitu menggoda hingga rasa gairah seketika memuncak, wah.. Sungguh Indah dipandangnya..

Ku coba lepaskan dia dari tempatnya, namun.. Ah, seketika duri itu melekat dalam tanganku, ingin ku menangis tapi itu tak mungkin, ku coba tenang tuk melepaskan kesakitan yang amat pilu..

Senja pun hadir dengan indahnya, ku kembali ke dalam rumah kayu dengan hiasan bunga, ya..aku sungguh menyukai bunga, bunga itu indah sama seperti dirinya..

Seketika itu ku mengingatnya, kesal.. Untuk apa aku mengingat dirinya? Apa-apaan ini? Sungguh bodoh, aku telah terbawa suasana..

Ku mohon.. Biarkan aku lupakan dia, aku tak peduli bunga itu mekar ataupun layu, karena dia pun tak peduli apakah ku suka atau duka, dia lebih mementingkan yang lain.

Namun, sungguh..

Sesungguhnya aku tak dapat melupakannya, disaat bunga itu layu ia menyapaku, dengan “hai, apa kabar?” lalu, apa yang harus ku lakukan? Diam kah? Apa aku harus membalasnya?

Tidak.. Tidak mungkin aku menerimanya kembali, sudah cukup sakit rasa itu jika terulang kembali, sudah sangat lama ku mengobati luka ini..

Ya, aku rindu..

Aku memang merindukannya, namun aku belum dapat mengembalikan diriku tuk menerimanya, meskipun sekadar menjadi teman mungkin, tapi tidak.. Aku belum bisa..

Biarkan aku memupuk dalam-dalam bunga layu itu, biarkan ku tanam lagi bunga yang baru, biarkan rinduku ku pendam hingga lusuh, dan biarkan rasaku menemukan dengan rasa baru.