Penguasa yang Berkhianat

Bisikan-bisikan halus yang berkelana menutupi indahnya negeri ini..

Rasanya terompet sangkakala ingin menyampaikan pesan kehancuran pada dunia ini..

Saling berdebat dan beradu pandangan tentang permasalahan yang dibenarkan dan kebenaran yang dijatuhkan..

Penyusup-penyusup asing yang menyamar menjadi malaikat dunia..

Koruptor-koruptor tingkat dewa layaknya penyelamat hidup kita..

Pengkhianat-pengkhianat keji yang bersembunyi dibalik para ulama..

Lalu, apa yang di inginkan mereka??

Menghancurkan tanah air sendiri demi keegoisannya ?

Menelantarkan keluarga demi kekuasaan yang dimilikinya?

Merendahkan karya anak bangsa karena gengsi dengan penampilan yang lebih menarik diluar sana?

Menciptakan beribu-ribu kekacauan dengan mengatasnamakan manusia lainnya?

Menutupi segala kesalahannya dengan menjatuhkan segala lawan bahkan kawannya?

Lalu, bagaimana ketentraman akan terjadi?

Jikalau kau seorang penguasa tak dapat memberikan kenyamanan bagi para rakyat..

Lalu, bagaimana kemakmuran akan tercipta?

Jikalau penguasa bertindak semaunya hanya untuk kebahagiaan dirinya..

Ku mohon, menyingkirlah.

Lebih baik tanah air ini miskin daripada harus terisi dengan kekayaan yang penuh dengan keharaman semata..

Lebih baik tanah air ini sepi daripada harus diisi oleh manusia-manusia khianat yang tak punya hati..

Lebih baik tanah air ini kosong, daripada harus dipenuhi dengan penguasa-penguasa pecinta dunia yang ingin menghancurkan tempat kelahirannya sendiri..

Lebih baik tanah air ini lenyap, daripada harus dibangun dengan ketidakikhlasan mereka sang penguasa khianat.

Denpasar, 17 September 2019

Bicaralah

Hei, apa kabar kamu yang hanya diam tanpa berkata seperti tak ada apa-apa?

Bicaralah..

Untuk apa kau diam seperti ini tanpa sebab akibat yang tak pasti?

Sudah bicara saja..

Daripada kau terus menyembunyikan segalanya, namun aku tahu apa yang kau sembunyikan..

Tak usah takut..

Aku sudah siap mendengar apa-apa dari dirimu..

Kepahitan yang akan kau ucapkan lebih dari pahitnya kopi hitam pun ku sudah siap..

Atau bahkan kau ingin menyuguhkan secangkir teh hangat sebagai pemanis kata-katamu pun aku juga siap..

Namun, ku berharap..

Sudahlah, daripada kau membuang-buang waktumu hanya dengan kata-kata yang tak seharusnya kau belit-belitkan, lebih baik bicaralah apa adanya..

Aku siap menerima konsekuensinya..

Aku sudah lelah dan bosan melihat drama mu yang rasanya tak mengesankan..

Aku sudah muak melihat aksi indahmu yang tak memuaskan..

Apalagi niat-niat yang kau bilang baik itu..

Kau pun tak tahu kan? Kapan kau akan menepatinya?

Sudahlah, jangan terlalu tinggi dalam berharap.

Dan jangan menaruh harap yang terlalu tinggi dengan seorang yang juga mudah tuk mengharap..

Kau tahu kan rasanya hanya berharap itu sakit?

Jadi, tak usah merasa kuat jika kau sendiri tak ingin sakit akan rasa harap itu..

Bicaralah..

Dengan lebih cepat kau berniat untuk berbicara apa adanya, lebih cepat pula kau akan menikmati hidupmu..

Aku hanya ingin kau berbicara, tak lebih. Apa itu sulit?

Apa dengan kau berbicara akan membuatmu merasa sakit?

Tidak, kah itu seharusnya aku yang lebih merasakan sakitnya?

Dengan menunggu pengakuan, kejujuran, kebenaran dan kepastian darimu..

Ku mohon..

Bicaralah segera tuan..

Itu semua tak akan merugikanmu..

Berilah sedikit rasa simpatimu itu padaku..

Karena bagaimanapun keputusan itu, aku siap..

Maka, bicaralah..!!

RINDU

Sengaja memalingkan wajah ini tuk hanya sekadar melepaskan penat..

Menunggu kedatangannya berdiri, mematung di depan halaman..

Menebarkan senyum indahnya yang ditampakkan pada wajah polos itu..

Rindu..

Haruskah aku merasakannya?

Lalu bagaimana dengan dirimu?

Tak takutkah dengan rindu?

Rindu yang begitu Indah dirasakan, namun akan menjadi pedih bila disia-siakan..

Sungguh, jagalah rasa itu!

Jangan biarkan ku mengadu pada Tuhan..

Bahwa kaulah yang menyia-nyiakan..

Ku titipkan rinduku..

Pada angin yang berhembus meninggalkan sepi..

Semoga sampai padamu..

Yang selalu menjaga hati..

Jangan Sakiti Aku!!

Kisah Nyata.

By: secret

Sejak kecil aku merasakan kekerasan dari orangtuaku, terutama ayahku. Ya, ayah. Aku tak tahu apa alasan ayahku melakukan hal yang tak sepantasnya dilakukan kepada seorang anak seperti aku, anak yang tak tahu apa-apa bahkan tak mengerti apa-apa. Anak si bocah ingusan yang hanya bisa mencari-cari masalah tanpa tahu solusinya. Yang aku tahu, aku hanya bisa bermain, menangis, tertawa, makan, tidur, pup, dan kembali bermain. Haruskah aku dapatkan hal itu? Hingga pada akhirnya terdapat luka yang mungkin tak kan pernah hilang. Ya, luka batin. Luka yang akan selalu melekat dalam memori panjangku, di mana aku akan selalu mengingat kejadian-kejadian tak mengenakkan itu.

Memarahi ku di depan umum adalah hal biasa baginya, membanting segala hal yang ada di dekatnya pun sudah biasa aku mendengarnya, bahkan menyakitiku dengan tanganmu pun sudah biasa aku rasakan. Dan itu kau lakukan demi kepuasan luapan emosimu saja, tanpa kau memikirkan aku adalah “anakmu” . Aku adalah titipan Tuhan yang Tuhan kirimkan langsung untukmu, untuk kau jaga, untuk kau rawat bukan untuk kau sakiti apalagi kau sia-siakan. Haruskah aku selalu menangis setiap hari karena hasil kenakalan yang aku perbuat akan selalu dapat ku tebak bahwa kau akan memukuliku? Ibu selalu menangis dan membelaku demi kau tidak menyakitiku? Lalu? Apakah kau akan tetap memukuliku, dan bahkan ibu? Jangan pernah kau sentuh ibu, apalagi menyakitinya jika kau masih menganggapku anakmu. Aku tak sudi jika kau menyakiti ibuku. Cukuplah aku yang tersakiti dengan segala pelampiasan amarahmu, cukup aku yang terluka, cukup aku yang selalu merasakan pahit getirnya setiap pukulan dan cubitanmu, cukup aku yang merasakan malu itu, CUKUP AKU AYAH!!

Mungkin aku sering mendengar beribu-ribu maaf keluar dari mulutmu, hanya demi meminta maaf kepadaku. Ya, mungkin dulu sebegitu polosnya aku hingga begitu mudah memaafkanmu. Tapi sungguh, perasaan luka batin itu masih tersimpan sangat rapi hingga saat ini ayah. Aku tak bisa menyembuhkannya, aku tak bisa memulihkan luka itu apalagi menghilangkannya. Sudah cukup kaulah lelaki pertama yang menyakitiku, disaat aku terlahir di dunia ini. Kau laki-laki pertama yang menyakitiku. Apa kelahiranku bukanlah keinginanmu? Kau berharap seorang anak lelaki, namun nyatanya aku yang terlahirkan. Hanya seorang wanita lemah yang tak tau apa-apa, mungkin tak berguna bagimu, dan mungkin menyusahkan bagimu. Maafkan aku, jika kenyataan ini pahit untukmu. Tapi, aku sangat berharap.. Jangan kau sakiti aku!! Cukuplah bagiku merasakan penderitaan itu. Aku tak ingin merasakan dan melihat segala kejadian kekerasan itu. CUKUP AKU YANG MERASAKAN!

Aku tidaklah salah, jika aku akan menjadi seorang wanita yang tumbuh dewasa dengan segala kebencianku terhadap seorang laki-laki, seorang wanita yang tertutup, seorang wanita yang keras, dan yang lainnya. Namun, kau sungguh sangat beruntung. Dan seharusnya kau bersyukur. Bahwa aku tak menampakkan kebodohan itu semua, aku mencoba untuk menghapus luka-luka itu, meskipun sulit dan tak bisa, namun aku tetap menutupinya. Aku begitu peduli dengan seorang lelaki, bahkan dengan adikku sendiri, aku sangat penyabar, aku belajar untuk terbuka, aku belajar untuk berani tampil di depan umum dan itu aku lakukan meskipun bertolak belakang dengan kepribadianku yang asli.

Sungguh sulit rasanya aku harus percaya dengan seorang laki-laki, aku takut. Aku takut jika aku harus menemukan seorang lelaki sepertimu. Aku takut aku tersakiti. Aku tidak ingin tersakiti kembali oleh seorang lelaki. Cukup kau!!

Ku mohon, jangan kau sakiti aku kembali. Jika perlu, sembuhkan lukaku ini. Aku ingin merasakan kebahagiaan dengan seseorang yang menemaniku nanti, tanpa ada kekerasan lagi. Tenang, aku sudah memaafkan segala kesalahanmu. Kau tak usah khawatir. Meskipun, aku masih menyimpan lukaku hingga nanti.

JANGAN SAKITI AKU LAGI!!

Klise

Meniru, ditiru atau bahkan tertiru..

Bukanlah suatu hal biasa yang selalu kau lewati..

Mencari-cari hingga sampai mengutak-atik dirimu sendiri..

Berdiri mematung bermonolog di depan cermin..

Hingga kepuasan menghantui wajah sumringahmu..

Berjalan melintasi ruang-ruang dan menjadi sorotan..

Terlihat menonjol?

Bahkan kau tak merasakan itu..

Hanya bisa meniru begitu saja tanpa berfikir..

Meskipun dengan peniruan yang dapat menipu..

Sudahlah, tak usah lanjut kau lakukan itu..

Cukup jadi dirimu dan kenali jati dirimu..

Klise! You can kill my identity !

Surat Untukmu

Pagi berganti malam,

Begitupun sang matahari yang menjadi rembulan..

Masih terdiam dan sendiri dalam kesunyian..

Memandangi langit dari kejauhan, namun..

Asal kau tahu, langit itu dekat..

Sedekat jarakmu yang sebenarnya kaulah yang jauh..

Rasanya, tak pantas ku merenungi hal-hal itu..

Hanya menambah beban yang seharusnya tak ku pikul sendiri..

Melupakan yang pernah ada dan biarkan sirna..

Karena seharusnya kau paham, kita tak dapat bersama..

Tutuplah pintumu erat-erat, dan biarkan aku sendiri..

Kau takut ku tersesat?

Tak usa khawatir, Tuhan selalu menjagaku dan akan memberikan jalan terbaik-Nya..

Untukku..

Menjemput MAPAN (Masa Depan) Dibalik Nama dan Impian

Ketika seorang Ananda menapaki jalan hidupnya dengan setumpuk cita-citanya yang harus ia raih. Bagaimana ia menjalani hidupnya dengan menemukan berbagai rintangan sebesar apapun tetap ia terjang, dukungan-dukungan yang ia dapatkan adalah salah satu yang dapat mengobarkan semangat seorang Ananda.

Gagal bukanlah sebuah penghalang baginya untuk bangun dan kembali bangkit, kegagalan tidak membuatnya putus asa namun dengan kegagalan itu membuat dirinya ADA dan bermakna untuk semua. Cita-citanya bukan hanya tuk ia seorang, tetapi juga tuk semua orang.

Apakah sebenarnya cita-cita Ananda? Sudahkah ia menggapai cita-citanya? Apakah ia masih terus berjalan, melangkah, berusaha untuk mewujudkan cita-citanya? Semua kan terjawab dibalik cerita-cerita ini. Jadi, janganlah anda merasa bosan dengan semua perjalanan cerita ini apabila anda benar-benar ingin mengetahuinya. Karena dibalik cerita-cerita yang mungkin terkadang membuat anda bosan, dari situlah anda perlahan-lahan akan menemukan jawabannya.

Penasaran dengan ceritanya? Yuk, coba mampir ke wattpad anandapertiwi6. Dan berikan suara serta comment terbaikmu. 😊😇

https://my.w.tt/mVIQUn3dqU